Home » Blog » Dua Faktor Pemicu Isu Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Dua Faktor Pemicu Isu Kesehatan Mental di Masa Pandemi

isu kesehatan mental di masa pandemi

 isu kesehatan mental di masa pandemi – Pandemi belum juga reda, semoga semua sahabat sehat dalam keadaan sehat dan bahagia. Sudah lebih dari satu tahun kita semua berjuang di masa pandemi.

Kali ini pandemi di Indonesia mengalami kenaikan kasus gelombang dua yang memunculkan angka covid-19 berkali lipat dari tahun lalu. Angka yang meningkat ini terbilang tidak main-main, pasalnya banyak masyarakat yang telah positif sehingga harus isolasi di rumah sakit maupun isolasi mandiri.

Isu kesehatan mental

Kondisi sekarang sungguh mengkhawatirkan, kita tidak hanya berjuang melawan penyakit namun juga berjuang bertahan dalam kondisi yang kalang kabut. Isu kesehatan mental di masa pandemi menjadi isu yang paling populer dibicarakan. Perlu sahabat sehat ketahui bahwa kesehatan mental juga mempengaruhi sistem imun. 

Isu kesehatan mental di masa pandemi muncul karena kondisi masyarakat yang sedang dalam kondisi benturan mental dengan daya kejut yang tiba-tiba.

Transisi penanggulangan covid-19 hampir dibilang tidak memberi jeda transisi untuk masyarakat mempersiapkan diri. Sehingga memunculkan suasana yang cepat seperti membalikkan tangan. Hal itu disebabkan karena ketersebaran virus yang sangat cepat. 

Covid-19 selain memunculkan pandemi juga menimbulkan resesi ekonomi. Hal tersebut berdampak negatif yang mengganggu kesehatan mental.

Beberapa kasus bahkan melarikan gangguan tersebut kepada penggunaan narkoba. Gangguan mental memunculkan kecemasan dan kekhawatiran berlebihan karena takut dan stres atas berbagai dampak virus corona.

Isu kesehatan mental di masa pandemi juga muncul karena situasi yang terkait dengan hasil kesehatan mental yang buruk, seperti isolasi dan kehilangan pekerjaan.

Ketakutan dan Resesi Ekonomi

Ketakutan. Faktor yang memunculkan gangguan mental di masyarakat adalah ketakutan. Ketakutan tersebut muncul karena dampak paparan virus corona yang dikabarkan dapat menyebar dengan cepat dan dapat mengakibatkan kematian.

Ketakutan tersebut akhirnya menimbulkan kekhawatiran yang dapat mengganggu kestabilan emosi dan pikiran. Upaya penanggulangan dengan menjaga jarak, isolasi mandiri dan lockdown juga mempengaruhi kestabilan tersebut. 

Tidak banyak masyarakat yang mampu melakukan adaptasi cepat dalam menghadapi masa pandemi. Kebiasaan aktivitas sehari-hari yang terhambat bahkan dihentikan secara tiba-tiba memberi sifat kejut dalam mental.

Beberapa orang dengan kondisi tertentu mempunyai kapasitas menerimanya namun sebagian lainnya justru tidak mampu menerimanya sehingga menimbulkan gangguan terhadap mental.

Resesi ekonomi. Kemerosotan ekonomi menunjukkan bahwa banyak dari sekian usaha dan perusahaan terdampak pandemi. Sehingga terjadi gulung tikar dan pengurangan pegawai.

Banyak orang yang mengalami kehilangan pekerjaan. Dari kasus tersebut, terlihat bahwa pandemi memberi dampak pada banyak hal yang saling terkait. Sehingga masyarakat yang mengalami dampak ekonomi akibat pandemi mengalami peningkatan depresi, kesusahan, kecemasan dan penurunan harga diri. 

Mereka yang mengalami gangguan mental karena dampak pandemi terhadap ekonomi lebih banyak terjadi pada mereka yang kehilangan pekerjaan daripada mereka yang pengangguran. Pasalnya, hal tersebut mempengaruhi perasaan misal akibat pengurangan secara mendadak.

Mereka yang mengalami pun akan kebingungan untuk mencari biaya tanggungan kehidupan sehari-hari karena ketidakbiasaan. Apalagi jika terjadi kepada orang yang memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi, akan mengalami kesehatan mental yang lebih cepat.

Dari kedua faktor tersebut, gangguan mental isu kesehatan mental di masa pandemi dilatarbelakangi oleh daya tahan tubuh dan mental seseorang ketika menghadapi suatu fenomena.

 

Pengaruh tersebut saling terkait satu sama lain, bahkan jika seseorang mengalami keduanya justru akan mengalami kesehatan mental lebih rendah. Maka dari itu, perlu adanya pembaharuan dalam meningkatkan kesehatan mental yang lebih baik. Misalnya seperti penyuluhan secara daring maupun bantuan lainnya untuk mengurangi tingginya gangguan kesehatan mental.

Referensi: KFF

Gambar oleh Total Shape dari Pixabay